Halo kadang-kadang, kadang-kadang halo
Kalian pernah membenturkan antara waktu dengan ruang? Sebenarnya apa itu waktu?
Membicarakan waktu seolah kita tidak bisa membicarakan dirinya dengan bebas. Waktu harus dibahas dengan memperbandingkan eksistensinya dengan eksistensi yang lain. Waktu adalah suatu proses yang bergerak, tetapi bukankah proses itu masih hal yang luas dan gerak juga memiliki definisinya sendiri, lalu waktu? Terus berjalan.
Waktu itu kog kayaknya cuma ilusi ya. Masa lalu kita itu sudah tidak bisa kita raih lagi, masa depan kita ukur dengan berandai-andai. "Saat ini" hanya kita lewati saja, ni "saat ini" saya menulis trus tu dah lewat kan. Maka dari itu saya ingin membenturkan waktu dengan ruang, agar saya bisa menangkap waktu. Tapi kembali ke atas, waktu itu tidak bisa kita tangkap secara independen.
Apakah akhirnya usaha untuk menangkap waktu itu sia-sia? Sepertinya iya, bahkan kecepatan cahaya yang cepat itu juga masih terikat oleh waktu. Jika saya bisa menembus ruang masa lalu atau masa depan, saya pun masih terikat oleh waktu. Tapi sebenarnya apa waktu itu sendiri. Nah berlalu lagi ini waktu.
Bagaimana dengan astronot yang katanya kalau keluar angkasa sana njuk kembali ke bumi tu lebih muda dari orang yang tinggal di bumi. Njuk apakah gravitasi kecil atau nol itu kemudian menghentikan waktu? menangkap waktu? tetap waktu itu berjalan lho.
Kesimpulan nulis iki njuk apa tentang waktu? Ngga ono, yang jelas yo waktu berlalu.
Yowislah lah mari duduk ngopi dan berilusi bahwa kita sudah membunuh waktu.
Thursday, November 3, 2016
Wednesday, November 25, 2015
Kriteria Kerja yang.......
Sebenarnya apa yang membuat kita tetap bekerja (kerja: kegiatan melakukan sesuatu)?
Yang kurasakan selama ini akhirnya kerja itu saya bagi menjadi 3 kriteria:
1. Kerja karena saya senang melakukannya.
Dalam kriteria ini saya biasanya melakukan kegiatan karena saya sendiri ingin melakukannya sendiri entah itu ada untungnya (untung secara materiil dan inmateriil) secara langsung maupun tidak langsung. Di kriteria ini saya sama sekali tidak mendapatkan tekanan ketika melakukannya, baik dengan keberhasilan maupun dalam kegagalan yang saya rasakan tetap rasa kepuasan itu hasilnya.
Dalam kriteria ini saya biasanya melakukan kegiatan karena saya sendiri ingin melakukannya sendiri entah itu ada untungnya (untung secara materiil dan inmateriil) secara langsung maupun tidak langsung. Di kriteria ini saya sama sekali tidak mendapatkan tekanan ketika melakukannya, baik dengan keberhasilan maupun dalam kegagalan yang saya rasakan tetap rasa kepuasan itu hasilnya.
Thursday, December 11, 2014
Produsen - MAKELAR juga Pengepul - Konsumen
Sedang mencoba menyadari dan mencari informasi bahwa kebanyakan yang menjadi kaya dalam sebuah sistem jual beli adalah sang perantara ato dalam tulisan ini saya tulis sebagai sang makelar.
Di tingkat kecil yang terdekat sang makelar di desa bapak ibuku yang menjadi kaya di desa tersebut adalah Sabran sang makelar yang menjadi pengepul (pul : tempat mengumpulkan atau memusatkan sesuatu) gabah hasil panenan warga di desa tersebut. Sabran kaya, Sabran yang sudah berumur setengah abad seakan sudah memenuhi kekayaannya dua kali lipat dikuadratkan dari umurnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Itu mungkin, karena Sabran sang makelar juga pengepul. Entah dikerucutkan menjadi teori apa ketika petani-petani padi yang memanen padinya dan menjual ke Sabran tidak bisa menentukan harga kiloan gabah padinya ke Sabran. Sabran tinggal bilang ke petani kalau harga gabah kering sekarang sedang turun sehingga Sabran hanya berani membeli gabah tersebut secara kiloan dibawah harga produksi (produksi: proses mengeluarkan hasil) gabah padinya. Dalam menentukan harga produksi petani pun tak jarang meleset dan masih diinjak-injak seperti keset. Investasi petani dalam usaha-usaha yang dilakukannya seakan menjadi ajang perjudian.
Berbeda dengan sang makelar yang juga pengepul. Dia bebas menentukan harga, bahkan bisa menambahkan biaya penitipan barang di pul miliknya. Sang makelar yang juga pengepul itu tetap bisa menentukan harga saat menjual ke pembeli di kota yang bisa saja makelar berikutnya. Beruntungnya, makelar berikutnya tadi masih bisa juga menentukan harga. Kemudian muncul aneh lagi, sebagai konsumen (konsumen: pemakai barang hasil produksi) saya tidak bisa menentukan harga untuk membeli barang tersebut? Anehnya lagi saya itu ngga menjualnya lagi lho, jadi saya kan tidak bermaksud untuk mengkomersilkan barang yang saya beli. Hmmmmmm mungkin karena saya mementingkan barang yang saya beli untuk diri saya sendiri?
Tak berhenti di tingkat individu. Dalam negaraku juga gitu kog. Semaju-majunya negeri yang saat ini saya tercatat sebagai warganya tetap menjadi produsen (produsen: penghasil barang) mentah. Produsen gabah yang belum siap dimasak menjadi nasi yang kalah oleh makelar juga pengepul.
Segini dulu, kelak nyambung lagi. Semoga
Di tingkat kecil yang terdekat sang makelar di desa bapak ibuku yang menjadi kaya di desa tersebut adalah Sabran sang makelar yang menjadi pengepul (pul : tempat mengumpulkan atau memusatkan sesuatu) gabah hasil panenan warga di desa tersebut. Sabran kaya, Sabran yang sudah berumur setengah abad seakan sudah memenuhi kekayaannya dua kali lipat dikuadratkan dari umurnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Itu mungkin, karena Sabran sang makelar juga pengepul. Entah dikerucutkan menjadi teori apa ketika petani-petani padi yang memanen padinya dan menjual ke Sabran tidak bisa menentukan harga kiloan gabah padinya ke Sabran. Sabran tinggal bilang ke petani kalau harga gabah kering sekarang sedang turun sehingga Sabran hanya berani membeli gabah tersebut secara kiloan dibawah harga produksi (produksi: proses mengeluarkan hasil) gabah padinya. Dalam menentukan harga produksi petani pun tak jarang meleset dan masih diinjak-injak seperti keset. Investasi petani dalam usaha-usaha yang dilakukannya seakan menjadi ajang perjudian.
Berbeda dengan sang makelar yang juga pengepul. Dia bebas menentukan harga, bahkan bisa menambahkan biaya penitipan barang di pul miliknya. Sang makelar yang juga pengepul itu tetap bisa menentukan harga saat menjual ke pembeli di kota yang bisa saja makelar berikutnya. Beruntungnya, makelar berikutnya tadi masih bisa juga menentukan harga. Kemudian muncul aneh lagi, sebagai konsumen (konsumen: pemakai barang hasil produksi) saya tidak bisa menentukan harga untuk membeli barang tersebut? Anehnya lagi saya itu ngga menjualnya lagi lho, jadi saya kan tidak bermaksud untuk mengkomersilkan barang yang saya beli. Hmmmmmm mungkin karena saya mementingkan barang yang saya beli untuk diri saya sendiri?
Tak berhenti di tingkat individu. Dalam negaraku juga gitu kog. Semaju-majunya negeri yang saat ini saya tercatat sebagai warganya tetap menjadi produsen (produsen: penghasil barang) mentah. Produsen gabah yang belum siap dimasak menjadi nasi yang kalah oleh makelar juga pengepul.
Segini dulu, kelak nyambung lagi. Semoga
Monday, October 27, 2014
Celana Jeansku Lengket
Akhirnya celana jeansku lengket.
Dari hari Jumat pagi aku memakainya. Kuambil dia dari lemari plastik merk asli Indonesia yang disarankan untuk kucintai dari bapak-bapak berkacamata di iklan televisi.
Dari hari Jumat pagi aku memakainya. Kuambil dia dari lemari plastik merk asli Indonesia yang disarankan untuk kucintai dari bapak-bapak berkacamata di iklan televisi.
Tuesday, May 20, 2014
Si Darpan
![]() |
| (foto: Noel) |
(ini tulisan lama) Akhir-akhir ini – menurutku – udara terasa panas. Sumuk.
Gerah. Bukan lagi hangat menenteramkan, tetapi lebih ke pengap-panas-kemrungsung. Siapa bilang “zamrud khatulistiwa”
itu masih sejuk panjang sabar? Kini hanya ada bongkahan tanah liat panas yang
terpapar musim pancaroba sepanjang tahun.
Seakan-akan ada gumpalan panas udara masif yang enggan
beranjak dari atas kota ini. Sepertinya
udara yang melayang-layang di sana begitu malas untuk pergi jauh ke ujung bumi.
Kemudian hawa sumpek itu berlipat ganda ditambah setiap keluhan, dikalikan
umpatan, dikuadratkan tatapan putus asa “bagaimana-cara-mendinginkan-diri”,
lalu semuanya itu bertumpuk-tumpuk di depan pintu kamar kita. Sumpek-sumpek ini
juga saling berpanjatan, bergulingan, menyatu, jalin-menjalin,berkelindan,
menjadi adonan kental yang rasanya tidak enak. Huek.
Thursday, May 8, 2014
Judulnya Tentang menyampaikan SALAM
Menyampaikan Salam
"...Selamat siang Kerabat,
Selamat Siang Masyarakat,
Selamat Siang Khalayak ramai..."
Selamat Siang Masyarakat,
Selamat Siang Khalayak ramai..."
Monday, February 24, 2014
terlambat "pamit untuk pergi"*
Subscribe to:
Posts (Atom)


