Akhirnya celana jeansku lengket.
Dari hari Jumat pagi aku memakainya. Kuambil dia dari lemari plastik merk asli Indonesia yang disarankan untuk kucintai dari bapak-bapak berkacamata di iklan televisi.
Monday, October 27, 2014
Tuesday, May 20, 2014
Si Darpan
![]() |
| (foto: Noel) |
(ini tulisan lama) Akhir-akhir ini – menurutku – udara terasa panas. Sumuk.
Gerah. Bukan lagi hangat menenteramkan, tetapi lebih ke pengap-panas-kemrungsung. Siapa bilang “zamrud khatulistiwa”
itu masih sejuk panjang sabar? Kini hanya ada bongkahan tanah liat panas yang
terpapar musim pancaroba sepanjang tahun.
Seakan-akan ada gumpalan panas udara masif yang enggan
beranjak dari atas kota ini. Sepertinya
udara yang melayang-layang di sana begitu malas untuk pergi jauh ke ujung bumi.
Kemudian hawa sumpek itu berlipat ganda ditambah setiap keluhan, dikalikan
umpatan, dikuadratkan tatapan putus asa “bagaimana-cara-mendinginkan-diri”,
lalu semuanya itu bertumpuk-tumpuk di depan pintu kamar kita. Sumpek-sumpek ini
juga saling berpanjatan, bergulingan, menyatu, jalin-menjalin,berkelindan,
menjadi adonan kental yang rasanya tidak enak. Huek.
Thursday, May 8, 2014
Judulnya Tentang menyampaikan SALAM
Menyampaikan Salam
"...Selamat siang Kerabat,
Selamat Siang Masyarakat,
Selamat Siang Khalayak ramai..."
Selamat Siang Masyarakat,
Selamat Siang Khalayak ramai..."
Monday, February 24, 2014
terlambat "pamit untuk pergi"*
Tuesday, September 17, 2013
Pencerahan
Pada
usia ke 29 tahun, saya memunculkan perasaan menyesal pada diri saya. Perasaan
menyesal terbit oleh karena muncul pemahaman bahwa menjalani hidup itu mudah.
Hidup adalah proses saya lahir ke dunia, tumbuh menjadi pribadi, menjalani
relasi di masyarakat, memberikan manfaat kepada masyarakat, lalu mati. Jika
hidup adalah suatu proses yang mudah, mengapa saya harus mengalami sekolah
(sekolah dasar sampai perguruan tinggi)?. Jika hidup adalah hal yang mudah,
saya akan memilih untuk menjalani hidup yang membuatku diri nyaman. Hidup yang
tidak merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Hidup dengan
mengerjakan apa yang menjadi kesukaan diri kita. Saya memelihara ikan hias atau
tanaman, lalu menjadi pedagang ikan hias atau tanaman.
Sunday, September 15, 2013
Once Upon A Time #1
![]() |
| Tulisan ini lebih mudah dicerna jika sambil ngemil ini (foto: noel) |
Bagaimana umpamanya jika begitu kita bangun di pagi hari,
tiba-tiba sudah berada di sebuah ruangan yang serba putih dan terang. Berkas
cahaya sangat kuat datang dari berbagai penjuru, namun terasa lembut dan tidak
menyilaukan. Kamu terkejut, tetapi tidak tersentak. Lebih tepatnya: terpana.
Mungkin sambil ragu-ragu kamu hirup napas. Eh, ternyata udaranya pun sejuk
menyegarkan, samar-samar bercampur dengan aroma susu dan roti. Nyaman. Hangat. Dan
sangat tenang. Dari jauh terdengar suara nyanyian. Suara anak-anak yang
bermain. Gemericik air. Semua hal yang kamu rasakan, dengar, hirup, dan raba
seakan-akan sudah sangat akrab. Kulitmu pun terasa berkali-kali lebih peka,
tetapi nyaman dan segar; sama sekali tidak seperti kulit orang bangun tidur.
Tidak ada debu halus atau bau-bauan asing yang bikin bersin. Semua menyenangkan,
segar, dan kuat. Sepertinya ini semua adalah bagian dirimu yang sudah hilang. Seakan
semua hal, semua rencana, dan segala upaya sepanjang hidup di bumi ini hanya
berfokus pada keberadaanmu saat ini. Merasa ada dan dicintai. Dengan sangat
kuat.
Saturday, August 31, 2013
Lintas Lalu sesaat yang dirasa
| sungai dan sarana-sarana di ujungnya |
Disini pagi terlalu cepat menyambut siang. Semua kebiasaan yang ada di kota metropolitan jumpalitan tak berdaya menghadapi perbedaan geografis yang mengiris kecepatan, ketepatan dan pembangunan.
Kota Air, kota rawa tapi dipaksa untuk berpembuluh aspal yang terjal dan bergelombang. Padahal gelombang yang ada di sela-sela nafas angin yang melewati badan air bisa menjadi sarana yang tidak terjal. Memang pembangungan disini bukanlah pembangunan yang berketepatan dan berkecepatan. Entah sengaja, entah tidak tahu, entah memaksa, atau entah memanipulasi.
Subscribe to:
Posts (Atom)


