Wednesday, July 31, 2013

Polengoid

Bapakku & Poleng (2008)
Sebongkah masa yang masif seakan menggelinding pelan di kedalaman ruang kosong. Sisi-sisinya yang tajam bergerigi meninggalkan sejalur debu kosmik. Di sana-sini, ketika cahaya Alpha Centauri menerangi samar, tampak lekuk-lekuk luar biasa yang terentang beberapa kilometer. Igir-igir mencuat hingga sekian ratus meter, dan lubang-lubang gelap entah berapa puluh meter dalamnya menjadi noktah-noktah gelap abadi. Menjadi takik, seperti gigi gemeligi, bak pecahan bola bekel raksasa yang habis dicakar-cakar anak gadis buto ijo, namun gelap. Seakan berkeretak ketika berputar. Dan bergerak lurus. Tanpa garis start, tanpa lini finish. Hanya Tuhan yang tahu sejak kapan bongkahan itu berputar dan menggelinding. Pelan tampaknya.

Hanya mereka yang kurang kerjaan – termasuk kalian – yang mempelajari cara mengukur besar dan kecepatan bongkahan asteroid yang lepas – ah, asteroid. Nama yang akrab namun senantiasa terlepas; meluncur di sela jari tangan ketika kau tangkap. Asteroid. Seperti nama seseorang.

Wednesday, July 24, 2013

Where do dissapoinment go?
-kemana perginya perasaan kecewa?-

Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, yaitu “kemana perginya perasaan kecewa?”, menarik untuk dibahas sedikit lebih jauh. Pada tanggal 23 Juli 2013, seorang teman kuliah bertanya melalui pesan singkat kepada saya pertanyaan aneh, tapi butuh pemikiran dan perasaan mendalam untuk menjawabnya. Pertanyaan diawali dengan, “pernakah dirimu merasa kecewa?”. Saya pun bertanya balik kepada teman saya, yaitu “kecewa dalam hal apa nih?”. Dia menjawab, “dalam segala hal?”. Saya menjawab, “ya, pernah”.
Pertanyaan kemudian berlanjut kepada pertanyaan berikutnya, yaitu “bagaimana dirimu mengelola perasaan kecewa yang kamu alami?”.

Monday, July 22, 2013

Hubungan Muntah dengan Gosip

     Pembicaraan tentang sesuatu hal ada yang menyenangkan dan mengenaskan. Hal itu jika ditinjau dari sisi akibat. Namun, jika melihat sisi lain, yaitu materi gosip, menurut pendapat pribadi saya, hanya berdampak menyenangkan.

Wednesday, July 17, 2013

Sudah Pagi

05.49 AM. Pagi semacam ini yang tidak begitu kusukai. Aku sudah bisa membuka mata sekitar 2-3 jam lalu, tetapi rasanya malas untuk bangun. Ingin terus bermimpi. Seperti nonton film nunggu klimaks yang tak kunjung datang. Seperti ada benang-benang halus kenikmatan yang memaksaku bersembunyi di bawah selimut, merayuku habis-habisan untuk tidak membuka mata, sembari tutup telinga rapat-rapat. Udara yang dingin menerobos ventilasi, bak zat magis ungu tua yang membuatku tersihir untuk memilih tidur terus. Suara kicau burung, bunyi gesekan sapu di halaman, gemerincing sepeda anak sekolah yang lewat di depan rumah, menjadi suara latar yang semakin meninabobokkan. Jangan bangun dulu, sayang. Dunia bisa menunggu.

Sayangnya, film harus usai, layar panggung harus diturunkan, dan tak ada lagi yang tersisa untuk dinikmati di alam mimpi. Ini adalah momen-momen di kala kita akan terasa pening jika memaksa diri tidur terus. Secara biologis, ini sudah waktunya bangun tidur. Bahkan tubuh biologisku sebenarnya mengizinkanku bangun sejak 2-3 jam lalu. Jadi, aku harus membuka mata, menguap lebar-lebar dan selama mungkin, menggeliat sambil menggeram panjang, lalu terdiam. Mataku menatap atap. Mataku berkabut dengan tahi mata dan segenap kotoran seperti biasanya. Aku jadi mirip beruang yang selesai hibernasi. Tetapi, ....
Padi vs. Ubi, Jagung, dan Kentang

     Suatu logika yang normal (dalam hal kuantitas) bahwa tiga lebih besar daripada satu. Jika ada tiga orang (dengan semua kondisi sama) melawan satu orang, maka yang bertahan sampai akhir adalah kelompok dengan jumlah yang lebih banyak. Namun, pada kasus ini, kejadiannya, sebutlah terjadi di sebuah negara antah berantah yang katanya penduduknya berbahasa Indonesia, satu barang mampu mempermalukan tiga barang. Katanya, di negara yang berbahasa Indonesia tersebut, sumber karbohidrat yang paling mendominasi (sudah menggunakan kata ‘paling’ ditambah dengan kata mendominasi, apa ga dua kali lipat tuh efeknya?) adalah nasi also know as beras. Nasi pun begitu efeknya, dua kali lipat, paling banyak dijadikan asupan dan menjadi salah satu sumber penyakit diabetes, karena mengandung glukosa, DAN saya percaya nasi punya serat, tapi jumlahnya sedikit dibandingkan ubi. Ubi yang rendah glukosa, juga kaya serat (saya sudah membuktikannya). Jika Anda mengalami kesulitan untuk buang air besar (bukan air bah), silahkan konsumsi ubi (cukup 2 ubi), maka dijamin halal besok paginya Anda akan tersenyum gembira di dalam kamar mandi.

Tuesday, July 16, 2013

menulis adalah bekerja untuk keabadian?

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Itu adalah penggalan kalimat yang tidak sengaja kutemukan saat ‘mencuri baca’ di toko buku Gramedia Amplaz. Karena mencuri-curi, aku tidak sempat melihat judul novel itu. Yang kuingat, di bawah penggalan tulisan kalimat itu tercetak sebuah nama- Pramoedya Ananta Toer. Sampai saat ini, aku hanya tahu bahwa identitas profesi yang melekat pada nama itu adalah PENULIS. Aku belum pernah membaca satupun buku yang ditulisnya. Jadi kenapa malam itu aku bisa terpukau pada kutipan kalimat ini? Begini ceritanya.

Celebration

<Peringatan: Tulisan tidak penting>

Barangkali salah satu ciri yang membedakan antara umat manusia dengan binatang adalah bahwa manusia suka merayakan sesuatu. Begitu manusia berkumpul, muncul seperangkat aturan. Lantas salah satu aturan yang pamali dilanggar – di antara segepok peraturan lain – adalah aturan untuk m-e-n-g-i-k-u-t-i p-e-r-a-y-a-a-n. Secara alamiah, ada perayaan datangnya musim hujan, datangnya musim panas, datangnya panen, equinox, perihelium, aphellium, perginya penyakit, datangnya wabah, datangnya menstruasi, datangnya menopause, 35 hari setelah bayi lahir, ulang tahun, lustrum, dies natalis, sewindu, ulang tahun perak, emas, diamond .... Dan semua itu seakan tiba-tiba disodorkan di bawah hidung kita, tanpa kesempatan berkilah, untuk DIRAYAKAN. (Sungguh, bukan saya yang menciptakan perayaan-perayaan itu. Siapa sih yang iseng punya ide bahwa sesuatu harus dirayakan?)

Pun agama datang, perayaan bertambah. Nasionalisme menyeruak, setumpuk lagi perayaan dan upacara. Idealisme berebut, media sosialita hingar bingar, muncullah “cause” ini-itu. Banyak! Berjibun. Masyaalloh! Apapun kostumnya, semua bermakna tunggal: perayaan! Bahkan cairnya hutang dari IMF pun patut dirayakan.