Sunday, September 15, 2013

Once Upon A Time #1

Tulisan ini lebih mudah dicerna jika sambil ngemil ini (foto: noel)
Bagaimana umpamanya jika begitu kita bangun di pagi hari, tiba-tiba sudah berada di sebuah ruangan yang serba putih dan terang. Berkas cahaya sangat kuat datang dari berbagai penjuru, namun terasa lembut dan tidak menyilaukan. Kamu terkejut, tetapi tidak tersentak. Lebih tepatnya: terpana. Mungkin sambil ragu-ragu kamu hirup napas. Eh, ternyata udaranya pun sejuk menyegarkan, samar-samar bercampur dengan aroma susu dan roti. Nyaman. Hangat. Dan sangat tenang. Dari jauh terdengar suara nyanyian. Suara anak-anak yang bermain. Gemericik air. Semua hal yang kamu rasakan, dengar, hirup, dan raba seakan-akan sudah sangat akrab. Kulitmu pun terasa berkali-kali lebih peka, tetapi nyaman dan segar; sama sekali tidak seperti kulit orang bangun tidur. Tidak ada debu halus atau bau-bauan asing yang bikin bersin. Semua menyenangkan, segar, dan kuat. Sepertinya ini semua adalah bagian dirimu yang sudah hilang. Seakan semua hal, semua rencana, dan segala upaya sepanjang hidup di bumi ini hanya berfokus pada keberadaanmu saat ini. Merasa ada dan dicintai. Dengan sangat kuat.

Saturday, August 31, 2013

Lintas Lalu sesaat yang dirasa

sungai dan sarana-sarana di ujungnya

Disini pagi terlalu cepat menyambut siang. Semua kebiasaan yang ada di kota metropolitan jumpalitan tak berdaya menghadapi perbedaan geografis yang mengiris kecepatan, ketepatan dan pembangunan.
Kota Air, kota rawa tapi dipaksa untuk berpembuluh aspal yang terjal dan bergelombang. Padahal gelombang yang ada di sela-sela nafas angin yang melewati badan air bisa menjadi sarana yang tidak terjal. Memang pembangungan disini bukanlah pembangunan yang berketepatan dan berkecepatan. Entah sengaja, entah tidak tahu, entah memaksa, atau entah memanipulasi.

Sunday, August 25, 2013

Kadang ingin ada diriMu, tuk duduk menemani...

22 Agustus 2013. Kamis subuh itu aku menyadari bahwa pemberontakan tubuhku bukan lagi semacam sinyal pencari perhatian yang manja. Benar-benar ada yang tidak beres dengan napasku. Itu adalah saat aku ingin memaki suara yang mengatakan bahwa oksigen itu gratis. Aku sadar di sekelilingku pastilah ada partikel-partikel O2 yang melayang di udara. Tapi entah kenapa subuh seolah partikel O2 jatahku sudah habis. Subuh itu napasku sesak. Seharusnya aku tetap mengumpulkan kotak-kotak kosong, botol-botol kosong atau semua ruang kosong untuk menyimpan oksigen bagi diriku sendiri. Sungguh, tak selamanya oksigen itu gratis...

Saturday, August 17, 2013

Merasa dicintai

Ibadah sabtu sore yang lalu masih menyisakan sejumput perenungan. Ini yang disampaikan sore itu.


Beriman itu adalah menghidupi kekinian

Thursday, August 15, 2013

Dan TUHAN pun tertawa renyah, sekeriuk kerupuk keriting

Dua minggu yang telah lewat, dalam minggu di antara bulan Juli dan Agustus, penulis mengamati kejadian-kejadian menarik yang terbit di sekitar lingkungan. Sumbernya beragam. Sumber pertama berasal dari pengamatan secara langsung, sewaktu duduk di sebuah warung makan kecil di dekat kos penulis. Sumber kedua bersumber dari percakapan secara langsung dengan manusia lain di dunia ini. Sumber ketiga tertangkap dari sumber audio yaitu, siaran langsung salah satu stasiun di yogyakarta. Kala itu penulis sedang duduk di kamar kos sambil menyetrika pakaian. Penulis mencoba mengolah kejadian-kejadian mengesankan yang telah diamati maupun didengar, menjadi sebentuk refleksi pribadi. Kata yang terbit adalah perilaku mengeluh dan rasionalisasi.

merasa dicintai

11 Agustus 2013. Itu sabtu sore. Sore itu sama seperti sore biasanya. Mandi air hangat, berpakaian nyaman, bersiap menikmati altarnya. Satu hal yang selalu kutunggu dari sabtu adalah sore ketika altarnya terbuka untuk ditapaki kaki-kaki kecil. Ketika ia yang berjubah mau berbagi panggung dengan celoteh anak-anak. Ibadah sabtu itu sungguh unik, menurutku. Baru kali ini aku menemukan ada gereja yang memberi ruang bagi anak-anak untuk berlarian naik ke altar. Tidak seperti di tempat lain, ketika melihat anak-anak berlarian ke altar, di sini semua mata tua itu hanya bisa memandang dari kejauhan. Tidak ada yang berteriak melarang. Semua mengantarkan langkah kaki-kaki kecil itu naik altar dengan wajah yang tersenyum. Walaupun aku tak ada dalam kumpulan bocah yang berlari itu, aku seringkali menemukan jiwaku jingkrak-jingkrak, bahkan membuat tarian suka-suka. Ngintil dalam sukacita anak-anak yang berlari itu...

Wednesday, August 14, 2013

Mulai Okultisme #1


Okultisme

Berasal dari kata:

Occultus (rahasia) dan Occulere (tersembunyi)